Friday, 8 January 2010

Meng'Inspirasi"....

Sebuah inspirasi adalah ide atau cerapan yang mengalir bebas, berisi penyegaran visi dan sekaligus sebuah titipan 'api' otoritas dari sang inspirator kepada yang diberi inspirasi olehnya. Bila kita menjadi inspirator, yang secara fisikal adalah alat pencampur udara dengan uap bahan bakar, sehingga dihasilkan api dengan tingkat suhu dan warna tertentu, tentu harus mengutamakan lahirnya keselamatan dan penyelamatan bagi semua pihak, ke arah yang lebih bijak dan lebih baik tentunya.


Menginspirasi merupakan sebuah proses kerja ilhamiah. Ada keindahan di sana. Tentu saja menyaratkan terbukanya kunci-kunci . Apa saja ?


1. Menginspirasi adalah penanaman kesabaran.

Pemberian apa yang terbaik yang layak kita berikan kepada siapa pun ? Ilmu dan buahnya. Pemberian ilmu akan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan pemuliaan diri dalam tat ukuran tertentu. Buahnya, baik yang berupa materi atau immateri akan memberikan motivasi bagi semua pihak untuk sebuah tindakan, yaitu pengamalan ilmu.

Oleh karena itu menginspirasi seseorang mestilah dilandasi pemikiran bahwa waktu, keruangan dan daya dukung lainnya telah mungkin untuk dimanfaatkan dalam aliran aksi. Mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang telah pernah dilakukan oleh seseorang membutuhkan wawasan tersebut. Artinya penting akhirnya bahwa seseorang yang telah terinspirasi bertindak telaten dalam tata kewajaran, agar lebih mudah menjaga kesinambungan kerja inspirasionalnya. Disinilah arti kunci penting yang pertama.


2. Menginspirasi adalah penularan kegembiraan.

Suasana apa yang terbaik bagi sebuah perubahan pribadi ? Kegembiraan yang wajar. Manusia pastilah ingin berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lebih baik. Bisa saja kesedihan merubah seseorang, atau kesakitan, atau pengalaman pahit. Namun demikian perubahan yang lebih menjanjikan hasil nyata adalah perubahan dalam suasana gembira. Dalam kegembiraan yang wajar, kerinduan atas perubahan yang ter’konsep’kan atau ter’teori’kan akan mencair secara terukur, berkelindan dengan mawas diri atas keilmuan diri pribadi. Dengan demikian maka perubahan yang akan terjadi sebagai buah proses menginspirasi memiliki landasan nalar logis, tidak muluk melambung di angan-angan atau janji-janji tanpa bukti, dan tidakmenjadikan pribadi ragu untuk berpijak di muka bumi.

Dalam kegembiraan pula, maka rasa diri positif, meminjam istilah dalam buku Quantum ikhlas, menjadi aktual. Positif feeling ini penting sekali bagi kita berkait dengan kebutuhan pokok kita , yaitu rasa percaya diri, untuk memulai perubahan. Otorisasi diri akan berhasil jika kita tidak lengah menjaga vitalitas dan kebanggan yang wajar.


3. Menginspirasi adalah penajaan keberanian

Keberanian yang dimaksud di sini adalah kesediaan diri untuk memulai sesuatu yang bermanfaat. Namun demikian keberanian tadi memiliki rentang tertentu. Keberanian yang berlebihan akan memunculkan agresifitas, kenekatan, petualangan, 'gambling' atas apa yang hendak dilakukan. Namun Keberanian yang terlalu kecil akan melahirkan kelambanan kerja, ketakjelasan visi dan kelemahan keputusan dalam bias dan kontroversi teknis. Dalam konteks struktural dan proses, maka keberanian yang berlebih memunculkan kebingungan strategik dan kebranian yang terlalu kecil akan memunculkan kegamangan proses.


Muara dari ketiga kunci tadi adalah 'keluwesan'. Jadi menginspirasi adalah menjadikan seseorang berubah secara luwes di segala kondisi, waktu dan keruangan.


Siapkah anda menginspirasi ?





Wednesday, 18 November 2009

Inspirator

Oleh : Supatmono...

Sebayang badan melukis bumi dengan sebuah silhoute. Hitam, meraga namun mirip dengan sosok terbayang. Melahirkan dan menularkan semangat kepada manusia senantiasa harus dimulai dari diri sendiri. Sebuah kearifan sederhana, namun begitu kuat mengakar di bumi, memanjang segaris jalan hidup kita. Demikianlah sejarah pelibatan, tiada pemaksaan. Namun kesadaran setiap diri mestilah pernah menjejaki sesuatu, bebayang kesadaran, agar diri mampu mencerap kesadaran baru yang mungkin berasal dari sosok yang lain. Yang lebih dalam deritanya, lebih perih luka perjalanan hidupnya, namun menyimpan kendali kesadaran diri yang kuat dan mumpuni.

Cinta manusia barangkali merupakan sebuah muara, pertemuan dengan laut : kerja dan kerja. Dan kemanfaatan yang terasakan mestilah menjadi bagian dari kecemburuan diri atas keberlangsungan hidup semesta manusia. Hingga kepedulian itu bergulir menjadi kenyataan, warna hidup keseharian diri, semangat membara untuk berharap dan merubah nasib diri.

Sarana teknis merupakan persoalan pengemasan sebuah spirit yang bertujuan jelas dan pasti. Kelindannya adalah ungkapan perhatian dan kasih sayang, dan ketulusan untuk saling mengingatkan atas bhakti yang mesti tuntas hingga tuaian hasilnya. Dan pertemuan demi pertemuan yang bersahaja adalah saksi perjalanan anak manusia yang setia menjaga Hidup Yang Raya.

Selamat datang semesta kemandirian manusia mensemesta. Banggalah dengan kebersamaanmu ! Langit penyaksi tiada yang sendiri di bumi.......